Telur Maleo Tiba di Banggai Laut

By Administrator 07 Des 2017, 07:52:37 WIB

Telur Maleo Tiba  di Banggai Laut

Banggai Laut, Rombongan pengantar telur burung Maleo (Macrocephalon) dari Kecamatan Batui, Kabupaten Banggai tiba di Banggai Kabupaten Banggai Laut, Senin (4/12). Dari Pelabuhan Banggai Laut, telur burung monogamy itu diantarkan ke Keraton Banggai yang tak jauh dengan pelabuhan.

“Hari ini (Senin), 4 Desember 2017 yang kita laksanakan adalah sebuah tradisi adat budaya yang sacral yang didalamnya mengandung nilai-nilai agamais, penuh pesan moral, hal ini memberi penegasan bahwa adat Banggai ini bersendi syarah, syarah bersendi kitabullah. Ini telah diwariskan ratusan tahun silam oleh para leluhur Banggai,” tutur Sekretaris Raja Banggai, Syarif Asgar Uda’a.

Syarif mengatakan, prosesi upacara ini telah dimulai di Kecamatan Batui sejak 1 Desember. Para pemangku adat di sana telah mempersiapkan segalanya untuk persiapan upacara hingga 3 Desember. Di mana perahu yang membawa telur  burung Maleo siap menuju pantai Banggai. “Dalam perjalanan menyeberang lautan, pimpinan dalam pelayaran disebut tanas,” kata Syarif.

Lanjut Syarif, terdapat dua tempat pelaksanaan ritual dalam perjalanan. Pertama, tepat di Desa Pinalong dilakukan pelemparan kayu. Sebab, menurut masyarakat adat Batui ini dilakukan karena saat putra Raja Adi Cokro, Abu Qasim menyeberang menuju daratan Batui sempat diganggu makhluk jahat.

Selanjutnya tampat yang kedua di Pulau Tolo, Kecamatan Labobo. Perahu yang membawa telur burung Maleo harus harus berhenti untuk mengganti pembungkus kulit depan menggunakan daun pohon komunong yang tumbuh di wilayah tersebut. “Waktu pengantaran telah melewati waktunya. Maka para pengantar beristrahat di Desa Tinakin yang dulu dinamakan Labuan,” katanya.

Sesuai dengan waktunya, ujar Syarif, pada kemarin pagi perahu yang membawa telur burung Maleo mulai meninggalkan Desa Tinakin menuju Baanggai Lalong untuk memberi tahu bahwa telur telah siap diantar. “Kemudian perahu berputar tiga kali sebagai penghormatan kepada para leluhur,” jelasnya. “Alhasil, semua yang dilakukan saat pelaksanaan upacara adat Malabot Tumbe adalah sifat-sifat terpuji. Budi pekerti yang luhur yang mesti dijaga dan dilestarikan,” tambahnya. 

Kegiatan Malabot Tumbe tersebut dihadiri perangkat adat Banggai dan Batui, Bupati Wenny Bukamo, Kapolres Banggai Kepulauan AKBP Idham Mahdi SIK, Pabung Kodim 1308 Luwuk-Banggai, Kepala Seksi Pidana Umum Kejari Banggai Laut Widiarso Dwi Nugroho, Ketua DPRD Banggai Laut Richard Manuas,  Kapolsek Banggai AKP Petrus A. Matasik serta pejabat di lingkungan pemerintah Kabupaten Banggai Laut.

Sementara itu, Bupati Wenny dalam sambutannya menyatakan, pemerintah daerah akan senantiasa berupaya memfasilitasi seluruh kegiatan adat. Selain ikut serta mensukseskan Malabot Tumbe, pihaknya juga tengah membangun sejumlah sarana dan prasarana adat. “Insya Allah Desember ini bisa selesai. Ini komitmen menjadikan Banggai Laut sebagai daerah adat,” terangnya.

Menurut Bupati Wenny, seluruh fasilitas tidak akan cukup untuk melaksanakan kegiatan adat jika tidak didukung dengan peran para pemangku adat dan masyarakat secara luas. “Mari satukan persepsi, pererat tali silaturahmi kita. Dengan modal itu, kami ingin mengembangkan adat ini, memelihara, dan melestarikan tentunya,” katanya.

Malabot Tumbe, kata Bupati Wenny, memiliki nilai-nilai kekeluargaan. Sebab, pengantaran telur Maleo dari Kabupaten Banggai melewati Desa Pinalong, Kabupaten Bangkep lalu ke Teluk Tolo di Kecamatan Labobo, kemudian ke Banggai, Ibu Kota Kabupaten Banggai Laut. “Ini sungguh luar biasa. Nilai-nilai kekeluargaan telah dicontohkan leluhur kita dulu,” jelasnya.

Selain itu, Malabot Tumbe, juga memiliki nilai-nilai penghormatan dan semangat berbagi. Menurut dia, dari nun jauh di Kecamatan Batui, telur Maleo diantarkan ke Kabupaten Banggai Laut. Ketika tiba, disambut dengan sangat baik. “Inilah namanya nilai penghormatan antara satu sama lain. NIlai semngat berbagi dengan pengantaran telur Maleo harus dijaga dan dilestarikan bersama-sama.” jelasnya.

Menurut dia, untuk melestarikan Malabot Tumbe, nilai-nilai pengantaran telur Maleo perlu ditanamkan kepada geenrasi muda. “Sehingga mereka paham betul apa maksud dari Malabot Tumbe,” terangnya.

Bupati Wenny juga mengucapkan terima kasih kepada perangkat adat Batu yang telah mengantarkan telur Maleo di Kabupaten Banggai Laut, meski jaraknya cukup jauh. “Kepada penyelenggara dievaluasi agar ke depan bisa menjadi pedoma bagi anak cucu kita ke depan,” ujarnya. (*)

Write a comment

Ada 2 Komentar untuk Berita Ini

  1. Sewa Mobil Surabaya 08 Des 2017, 12:18:51 WIB

    sekarang telurnya pasti sudah jadi burung

    Sewa Mobil Di Malang 14 Des 2017, 06:27:06 WIB

    Good job

View all comments

Write a comment

Input Kode :

Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, twitter, Google+, Linkedin dan dapatkan informasi terbaru dari kami disana.

Komentar Terakhir